Muhammad Fakhri Lukman

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Bab 0 : Pencari Mereka Yang Terbuang

Bab 0 : Pencari Mereka Yang Terbuang

Namaku Satria Wijaya, dipanggil Satria, seorang anak pedesaan yang karena masalah pribadi yang takkan kuceritakan disini, memutuskan untuk pindah ke kekotaan.

Aku yang seorang yatim piatu telah meranjak umur 17 tahun, masa-masa kecilku agak berbeda dengan anak yang lain, dimana mereka biasanya pergi ke sekolah untuk belajar atau nongkrong bareng teman, waktu-waktuku kuhabisi dengan 2 hal saja.

Berkerja untuk cari uang, dan bermain dengan hantu-hantu tak kasat mata.

Ya, kalian membaca itu dengan benar, aku yang merupakan seorang anak kecil bisa disebut dengan sebutan paranormal, entah karena apa atau sejak kapan, hal yang kuingat hanyalah bahwa sejak kecil, sekitar 10 tahunan lah, aku sudah bisa melihat ‘mereka’, mahkluk yang kusadari tidak semua bisa melihat.

Pertemuan pertamaku dengan hal yang berbau paranormal bermula ketika aku masih berumur 10 tahun, aku yang baru saja balik dari jualan korang ke rumah-rumah di sekeliling desa berjalan dengan santai di tepi-tepi jalan yang sepi.

Kondisi cuaca waktu itu lagi kurang baik, dikarenakan musim hujam yang dipenuhi dengan angin-angin yang kuat, jadi aku harus memegang koran-koran ku dengan kuat supaya mereka tidak ikut terbang seperti sendal yang kupakai beberapa jam sebelumnya.

Aku yang sudah capek pergi berjualan, karena rumah gubuk kayuku sudah dekat, aku dengan ngos-ngosan berjalan-jalan terus sambil memegangi koran-koranku, karena sudah gelap, aku langsung berlari saja menuju rumahku.

Pada awalnya aku tidak memikirkannya sama sekali, tapi lama kelamaan aku mulai sadar, aku yang sudah berlari lebih dari 3 menit, sama sekali masih tidak bisa melihat lampu pijar yang menandari pintu gerbang masuk rumahku.

Aku mulai menyadari kalau ada yang aneh, tapi karena aku masih kecil dan juga penakut, aku pura-pura saja tidak sadar dan terus-menerus berlari ke arah rumahku, yang pada akhirnya membuatku berhenti karena sudah kehabisan tenaga.

Aku yang ngos-ngosan itu pada awalnya tidak sadar sama sekali, tapi setelah berpikir sejenak sebentar, aku baru sadar, hujannya yang awalnya sudah mulai reda mulai makin deras, dan angin yang tadi kenacng banget sudah berhenti.

Melihat koran-koran yang sudah dengan susah-payahnya dijaga supaya tidak basah itu sekarang sudah basah total, aku hanya diam kesal.

Karena masih agak kesal, aku sama sekali tidak menyadari bahwa udara disekitar mulai menjadi dinging, aku baru tersadar ketika ada angin kuat yang membuat semua bulu kuduk di kedua tanganku berdiri.

Karena sudaha gelap, dan memang sering ada cerita yang aneh-aneh di desa itu tentang anak kecil yang tidak balik-balik ke rumah ketika sudah malam-malam.

Seketika, aku mendengar suara perempuan yang membuatku berhenti membeku.

“Dek, Adek lagi ngapain disitu.”

Saat kulihat ke arah sumber suara itu, beridirilah seorang ibu-ibu tua yang menggunakan pakaian kuno yang terlihat mewah, ada beberapa kalung emas di lehernya dan jari-jari tangannya dipenuhi dengan cincin-cincin permata yang mewah.

Aku yang tahu bahwa tadi tidak ada orang sama sekali di tempat perempuan tua itu berdiri, langsung melangkah mundur pelan-pelan sambil menjawab dengan menggigil ketakutan.

“E-e-e-eh, Gak ada buk! Saya Cuma istirahat sebentar aja, ta-ta-tadi habis pergi jualan.”

Entah mengapa, walaupun aku sudah melangkah mundur menjauh beberapa kali dari ibu tua itu, aku merasa bahwa jarak diantara kami beruda itu sama sekali tidak berubah, perasaan itu membuat kakiku gemetaran lemas, karena kau menyadari bahwa ‘ibu tua’ yang ada didepanku ini bisa saja merupakan alasan kenapa aku tidak bisa sampai ke rumahku.

Melihat aku yang kakinya gemetaran, ibu tua itu hanya tersenyum dan mulai berjalan dengan santai menujuku, tangannya yang awalnya kosong sekarang memegang sebuah tongkat kayu jati yang mengeluarkan bau melati.

“Wah hebat ya, walaupun masih kecil, dedek dah mulai jualan, ibu mau beli dong barang jualannya.”

Melihat ibu tua itu yang sekarang makin dekat, aku dengan cepat-cepat melempar semua korangku yang basah ke muka ibu tu dan langsung berlari sambil berdoa ke tuhan untuk melepaskan aku dari hantu menakutkan yang ada di depanku ini.

“TUH! AMBIL AJA SEMUANYA! KUKASIH GRATIS!”

Sepertinya tuhan mendengar doaku, karena pemandangan sekitar yang awalnya tidak bisa berubah sama sekali, tidak peduli berapa kuat aku berlari, sekarang sudah berubah kembali seperti normal.

Dengan tidak memedulikan kakiku yang sakit karena menginjak batu tajam dan nafasku yang sudah habis, aku dengan kecepatan yang menyaingi orang-orang olimpiade international itu langsung masuk ke dalam rumahku dan membating pintu kayuku dengan kuat.

Kuambil beberapa paku yang sudah copot dan beberapa barang lainnya, barang-barang itu kubacakan doa dan kemudian aku lempar-lempar di sekitar pintu masuk dan jendela rumahku.

Setelah yakin bahwa semua jalan masuk sudah kuberi ‘pelindung’ aku mulai mengambil nafas dalam-dalam, karena adrenalinenya sudah habis, tubuhku yang awalnya tidak sakit saat berlari, mulai mengeluarkan rasa pedih yang melangit.

Aku yang kesakiatn menjerit pelan, kubukan baju dan celanaku yang basah dan kuletakkan di keranjang dekat pintu, setelah itu aku langsung merebahkan tubuhku sambil memijat kakiku yang berdarah karena menginjak batu tadi.

Sambil kupijat-pijat, aku berusaha mencari salep yang beberapa hari lalu aku beli ketika aku berada dipasar, kutemukan salepnya berada di dekat meja yang berada di tengah ruangan, aku yang tidak bisa menggapainya paad akhirnya terpaksa merangkak untuk mengambil salep itu.

Karena kaki aku sangat-sangat nyeri, aku merangkak sambil telungkap, jadi aku tidak bisa melihat barang-barang yang ada di atas meja, jadi dengan asal-asalan, aku menjularkan tanganku ke meja dan mulai meraba-raba ngasal.

Setelah beberapa saat meraba-raba, aku mulai merasa jengkel karena obat salepnya masih tidak ketemu, ketika perasaanku mulai naik, aku akhirnya menemukan obat salep yang kucari-cari dari tadi.....

“Ini dek, obat salepnya, tadi jatuh ke lantai di seberang meja.”

.... Di tangan hantu ibu tua yang tadi.

Suara bagian tubuh jatuh mengeletak ke lantai menghancurkan suasana hening di rumahku, aku yang tak mempunyai tenaga sama sekali untuk menjerti secara spontans langsung pingsan, pandangan terakhir yang kulihat adalah potongan kepala ibu tua itu yang hanya tinggal tulang dan sebuah bola mata saja memandang mukaku.

Mulutnya yang hanya tulang terbuka lebar, gigi-giginya seperti gigi hewan, tajam dan juga besar, tangan yang sedang kupegang juga berubah, yang awalnya tadi seperti tangan manusia biasa, sekarang sudah berubah total.

(0O0)

“Shush! Shush! Dek! Dek! Bangung Dek! Kok bisa tidur disini adek!?”

Suara bapak-bapak yang keras membuatku tersadar, hal pertama yang kulihat ketika aku bangun adalah sinar matahari yang menyengat bumi, yang secara langsung membuatku mengalingkan kepala karena merasa kesilauan.

“Ugh… Apa yang terjadi?” Ucapku lemas, kulihat sekelilingku secara sekilas.

Aku tidak ada di rumah, melainkan berada di tengah jalan raya beraspal yang agak sepi.

Seketika aku mengoleh untuk melihat orang yang telah membangunkanku, yang membangunkanku itu seorang bapak-bapak. Dia itu memakai baju seragam warna hijau, dia menggunakan topi hitam dan sedang memegang sapu dan tempat sampah, singkatnya, dia merupakan tukan sapu jalanan.

Bapak tukang sapu itu menjelaskan, bahwa dia menemukan aku yang tergeletak tak berdaya itu di tengah jalan raya, sendirian dan menggunakan pakaian yang basah kuyup, di seretnya aku ke kursi umum dan kemudian dibangunkan.

“Dek, adek tadi ngapain tidur ditengah jalan kayak gitu? Bajunya basah kuyup juga, emang adik habis kecolom masuk comberan dan ketabrak motor saat menyebrang ya?” Tanya bapak itu.

Sambil duduk-dudukan, aku mulai bercerita.

“Jadi begini lho pak, awalnya aku habis pulang kerja jualan koran kemaren….”

Aku bercerita semuanya kepada bapak itu, tentang pertemuan menyeramkanku dengan ibu tua yang menggunakan pakaian kuno itu, tentang hujan yang tiba-tiba makin deras, Aku yang tidak bisa bergerak, dan penampakan eram ibu itu sebelum aku pingsan.

Si bapak hanya mengangguk-angguk pelan mendengar ceritaku, mukanya biasa saja, seperti sudah sering mendengar cerita yang sama berulang-ulang kali.

Melihat ekspresi bapak itu, aku tak bisa menahan diriku dan langsung bertanya.

“Sudah sering kayak gini ya pak? Kayaknya bapak enggak asing deh.”

Mendengar pertanyaanku, bapak itu menjawab sambal memberikan senyum bingung.

“Yah gimana bilangnya ya nak, setengah asing sama setengah gak asing sih, memang ada yang mirip sama kamu, tergeletak di tengah jalan raya sendirian, tapi kalau kamu beda sendiri sama yang sebelumnya.” Ucap bapak itu.

“Memang apa bedanya sama yang lain pak?” Tanyaku bingung.

“Yahhhh… Yang lain sudah mati sih dek, Cuma kamu saja yang bapak temukan masih hidup.”

“APA!” Teriakku kaget.

Melihat mukaku yang kaget dan pucat, bapak tua itu kemudian mulai bercerita.

“Iya dek, nama ibu tua itu Bu Ratma Rhindayah, beliau sudah meninggal sekitar 100 tahun lalu, ketika Indonesia masih dijajah sama belanda, beliau dibunuh oleh tentara belanda ketika ketahuan sedang melindungi anaknya yang tidak sengaja melempar batu ke muka seorang tentara.”

“Ketika dibunuh, jenazah bu Ratma itu tidak dikubur dengan benar oleh mereka, jenazahnya hanya dibuang ke dalam semak belukar dan ditinggalkan, beberapa minggu kemudian barulah ditemukan bekas jenazahnya oleh tetangga-tetangga sekitar.”

“Sedangan anaknya itu disiksa oleh para tentara belanda itu, dicabut kuku tangannya satu persatu, di patahkan jari-jarinya, di potong lidahnya, di cabut kedua bola matanya dan dibakar lubang hidungnya, padahal anak itu masih seumuran kau lho dek.”

“Semua itu dilakukan mereka selama 3 hari 3 malam, tanpa memberikan anak bu Ratma itu minum atau makan, mereka semua membiarkan anak itu mati karena kehilangan darah, habis itu tubuhnya dibuang ke selokan, .”

“Melihat anaknya yang disiksa itu, tentu saja bu Ratma yang sudah meninggal itu jadi murka, Ibu Ratma kembali dari alam sebelah untuk menghantui para tentara-tentara belanda itu, selama 100 tahun belakangan ini, semua orang yang memiliki darah orang belanda ditubuhnya di ganggu oleh bu ratma.”

“Sepertinya kau itu jufa merupakan keturunan orang belanda, walaupun cuma sedikit sekali, biasanya bu Ratma tetap akan membunuhmu, tapi sekarang tidak, kira-kira kenapa ya dek?.” Tanya bapak itu.

“Hmmm… Gak yakin juga sih pak.”

“Bapak kayaknya tau sih dek, alaannya.” Ucap bapak itu.

“Apa pak?”

“Kamu itu Paranormal.” Ucap bapak itu santai.

Mendengar perkataan bapak itu, Aku hanya bengong melihat bapak itu.

“Apa.” Ucapku yang masih belum nyambung.

“Iya dek, sepertinya adek itu seorang paranormal, makannya bu Ratma itu tidak bisa membunuh adek, kan paranormal itu mempunyai pelindung alami yang bisa melindungi mereka dari serangan para arwah-arwah jahat.”

“Walaupun sudah gentayangan selama lebih dari 100 tahun, bu Ratma itu tidak pernah memakan jiwa korbannya, makannya sampai sekarang dia tidak pernah bisa melukai seorang paranormal karena kekuatannya itu masih lemah, haya cukup untuk mencelakai masyarakat biasa.”

“Bu Ratma yang tak pernah tenang itu selama puluhan tahun terus-menerus pergi mencari jasad anaknya itu, tapi karena dibuang sembarangan, bahkan para tentara belanda yang membuanya itupun tidak tahu dimana jasadnya berada.”

“Bapak khawatir, kayaknya selama jasad anaknya itu tidak ditemukan, dia akan terus-menerus gentayangan selamanya, setiap melihat anak kecil atau orang yang memiliki darah belanda, ibu itu selalu menyerang mereka.”

Mendengar ucapan bapak tua itu, aku hanya terbengon bingung, kemudian aku sadar akan hal yang ganjal dari cerita bapak itu.

“Emmm.. Pak.” Ucapku khawatir.

“Iya dek?’

“Kok bapak bisa tahu banyak soal kejadian yang sudah 100 tahun silam ya pak?”

Mendengar pertanyaanku, bapak itu hanya menatapku diam, kemudian dia berkata.

“Yahh… kan bapak meninggalnya 120 tahun yang lalu, 20 tahun lebih tua dari pada Bu Ratma.” Ucapnya santai.

Tubuhnya yang awalnya biasa-biasa aja mulai rusak, banyak lobang muncung di pakaiannya, sapu yang dipegangnya langsung menggeliat-liat, lubang mata bapak itu kosong, dan keluar beberapa ulat dari lubang mata yang kosong itu.

“AHHHHHHH!!!!!!!!!!!!!!!”

Seketika, penglihatanku menjadi gelap lagi.

(0O0)

Melihat bocah muda yang pindah ke dunia mimpi itu, Dandi, seorang hantu tua gentayangan itu hanya menggelengkan kepalanya.

‘Sudah kuduga, tubuh asliku memang masih terlalu seram untuk seorang anak muda seukurannya, paranormal atau tidak.’ Pikir Dandi.

Tubuhnya yang awalnya busuk itu sudah kembali menjadi normal, matanya sudah kemabil normal dan bau tubuhnya sudah tidak busuk lagi.

Dengan perasaan capek, dia mengeluarkan kekuatan alam bawah sadarnya untuk mengangkat anak itu.

Seorang paranormal itu merupakan hal yang langka, diantar 1 dari 10,000 mempunyai kekuatan untuk berinteraksi dengan mahluk dunia lain, apalagi dengan mahluk yang sudah berumur ratusan tahun.

Bisa melihat dan selamat dari bu Ratma itu beda hal dengan selamat dari berbicara dengan Dandi, walaupun sudah lebih dari 100 tahun, bu Ratma itu tidak pernah memakan jiwa korbannya, jadi walaupun sudah hantu level ke 4, dia masih saja hanya sekuat hantu level 2, jadinya bahkan seorang paranormal yang masih dibawah umurpun bisa selamat dari serangan energy bu Ratma.

Tapi Dandi beda, selama 120 tahun sejak dia mati itu, dia selalu memakan jiwa-jiwa dari berbagai macam orang yang meninggal secara tidak benar, orang yang dibunuh tentara belanda, orang yang mati terjatuh dari tebing, mati ditendang kuda, dibunuh sama teman sendiri, karena kecelakaan lalu lintas, atau karena kecapekan berkerja.

Semua jiwa dari orang-orang itu sudah dimakan habis sama Dandi, membuatnya mempunyai kekuatan seorang hantu level 4, setara dengan setan-setan yang menjaga pintu ke alam sebelah.

Diangkatnya anak laki-laki itu dengan menggunakan energinya, habis itu dia masuk ke dalam bayangan dengan memakai sihirnya, anak kecil itu masih terikat dengan kuat disampingnya.

Dengan secepat kilat , sepasang manusia dan arwahpun tiba di sebuah gedung besar tua, pintu depan masuknya sudah hancur berantakan, tanga-tangannya sudah hilang, kaca jendelanya hilang dicuri maling, dan saluran listrik dan airnya juga sudah lama putus.

Dengan santai, Dandi membawa masuk Satria ke dalam basement gedung besar itu, dengan menggunakan kekuatannya, dia menciptakan bola-bola cahaya untuk menerangi basement yang gelap itu.

Karena sudah lama ditinggal dan tak terawat, basement itu dipenuhi dengan air dan juga banya debu, Melihat kondisi basement yang tak terawat itu, Dandi langsung mengayunkan sapu yang ada ditangannya dan muncul angina kuat yang menghilagkan semua debu dan air-air yang ada di lantai.

Dengan pelan-pelan, Dandi menaruh Satria ke lantai basement itu, dia kemudian cipatakan beberapa lilin kecil menggunakan energinya dan ditaruhnya di sekeliling Satria, dengan satu sentikan, semua lilin menyala, membentuk segitiga di dalam sebuah lingkaran.

Kemudian Dandi membungkuk dan menepuk wajah Satria dengan pelan.

“Uhhh.. apa yang terjadi?.... Kok gelap sekali.” Ucap satria pelan, tubuhnya entah mengapa terasa sangat lemas.

“Dek-Dek, bangun dek.”

Mendengar panggilan orang, Satria menggarahkan kepalanya ke sumber suara itu.

Melihat bapak tua itu, Satria langsung ingat tentang kejadian beberapa lalu.

“AAA-“ ‘Plak’ ‘Plak’ ‘Plak’ ‘Plak’

Belum sempat satria berteriak, sapu yang ada di tangan bapak tua itu langsung melayang, menampar wajah satria dari kanan ke kiri berulang kali.

“Jangan berisik dek, nanti yang lain bangun, bisa bahaya adek nanti.”

Ucap bapak itu, sambal menunjuk beberapa figure besar yang sedang berbaring di ujung-ujun apartement.

Melihat sosok yang besar dan menakutkan itu, Satria hanya mengangguk pelan.

“Nah, begini dek, bapak ada sebuah tawaran ke adek, berujung adek tu orang paranormal pertama yang bapak temukan, bapak mau kasih tawaran ke adek.”

Seketika, Satria langsung bingung, melihat wajah anak kecil yang bingung itu, Dandi langsung terenyum.

“Adik mau gak, menjadi Ghost-Hunter?”

Satria hanya bengong melihat bapak itu.

“Eh, adik gak bisa Bahasa inggris ya? Ya ampun, anak zaman sekarang memang begini ya, biarlah, bapak Tanya ulang lagi aja.”

“Adek mau gak, jadi Pencari mereka yang terbuang?”

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Seru kak ceritanya, tapi aku kasih kritik boleh gak? Jadi tanda titik di setiap paragraf itu kurang kak. Setiap satu paragraf hanya satu kalimat, jadinya kurang seru bacanya. Gitu aja sih kak

24 Aug
Balas

Bergabung bersama komunitas Siswa Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali