Muhammad Fakhri Lukman

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Bab 2 : Akhir Dari Sebuah Pencarian

Bab 2 : Akhir Dari Sebuah Pencarian

Sudah beberapa tahun berlalu sejak penjelasan pak Dendi, Satria sekarang sudah berumur 18 tahun, tubuhnya yang dulunnya kecil dan lemah bagaikan ranting yang hampir patah, sekarang sudah menjadi pohon jati raksasa yang perkasa.

“Satria, ingat apa yang saya sudah peringatkan ke kamu, jangan terlalu banyak berolahraga hari ini, soalnya nanti malam kita akan memulai pencarian pertama kita, jadi kau perlu menyimpan banyak tenagamu.” Ucap Pak Dendi, kekuatan mistisnya membuatnya bisa melakukan banyak hal yang aneh dan luar biasa, berbicara dari jarak jauh, atau bisa disebut dengan telepati, merupakan salah satu kekuatan yang hantu tua itu miliki.

“Tenang aja pak, Cuma jogging kecil kok, berkeringat aja enggak.” Ucap Satria, berbeda dengan hantu tua itu, walaupuns udah diajarkan berbagai macam kekuatan astral, kekuatan untuk berbicara jarak jauh adalah hal yang Satria masih tidak bisa lakukan, karena itu untuk menjawab ke Pak Dendi, dia masih harus bersuara seperti orang normal.

Untung saja tempat dimana Satria berlari itu sangatlah sepi, kalau ada orang yang melihatnya berbicara sendirian, paling-paling Satria akan dianggap sebagai orang gila, atau lebih parahnya, kesurupan oleh hantu atau setan.

Setelah puas berlari, Satria berhenti di ujung jalan raya dan memutar kepalanya untuk memerhatikan kondisi jalan, memastikan supaya tidak ada manusia lain yang melihat latihan berikutnya yang akan dia lakukan.

Setelah merasa cukup aman, Satria langsung masuk ke dalam hutan yang ada di samping jalan raya itu melalui celah-celah pohon yang sudah dia buat beberapa tahun sebelumnya.

Ketika sudah cukup dalam, Satria menggunakan kekuatan astral yang sudah diajarkannya untuk menguatkan tubuhnya, badannya menjadi semakin keras, tubuhnya menjadi jauh lebih lincah dan ototnya menjadi lebih kuat daripada baja.

Kemudian, Satria memulai latihan beladiri menggunakan kekuatan Astralnya, setelah merasa cukup latihan, Satria kemudian keluar dari hutan khusus tempat dia latihan itu, dia langsung merapikan pakainnya yang robek-robek dengan menggunakan kekuatan astralnya, secepat kilat, bagian-bagian yang robek dan berlubang mulai menyatu kembali.

Ketika Satria mulai berjalan kembali ke apartementnya, matahari sudah mulai turun, dilihatnya jam yang berada ditangannya.

‘Jam 4 sore, masih ada 5 jam lagi sebelum ritualnya dimulai, sebaiknya aku ngapain dulu ya?’ pikri Satria.

Karena merasa lapar, Satria berpikir untuk di membeli makan di restoran terdekat, ketika sudah sampai di tempat makan ‘Bakso Guling’, Satria masuk dan memesan 2 buah mangkok bakso besar.

“Baiklah mas, silahkan tunggu dulu di dalam, baksonya kami persiapkan dulu ya.” Ucap pelayannya, Satria hanya mengangguk dan langsung duduk di tempat duduk yang sudah ditunjuk oleh pelayan itu.

Sambil menunggu baksonya siap, Satria membuka handphone barunya yang diberikan oleh Pak Dendi dan mulai menyelusuri internet.

Karena sudah dari kecil hidup bersama mahluk-mahluk astral dan hantu-hantu, hal-hal yang biasanya disukai oleh anak lain seperti game online atau video trending di youtube tidaklah menarik perhatian Satria, ketiak membuka google dan youtube, hal yang dia cari hanyalah artikel-artikel tentang penampakan hantu-hantu di berbagai daerah di Indonesia dan beberapa nama-nama dukun terkenal.

Dia berpikir untuk mendatangi dukun itu satu persatu untuk mencari tahu apakah mereka itu beneran seorang paranormal seperti dia atau tidak, kalau misalnya mereka itu sama seperti dia, Satria berencana untuk meminta tolong mereka untuk membantu dia dan Pak Dendi di dalam misi mereka.

Ketika Satria sibuk membaca artikel tentang dukun yang berasal dari luar negri, suara Pak Dendi membuatnya terkejut.

“Satria! Jangan bergerak, diam saja disitu!” perintah Pak Dendi.

Satria yang sedang bengong membaca artikel itu melompat kaget, handphone yang dipegangnya itu hamper saja dia lempar ke luar saking kagetnya.

Seketika, dia memutar kepalanya kesekeliling dengan cepat, memastikan bahwa tidak ada satu orangpun yang melihat tingkah laku anehnya itu, setelah memastikan bahwa keadaannya itu aman-aman saja dan tidak ada yang memerhatikan, satria mulai berbisik menjawab balik dengan pelan.

“Ada apa pak?” Tanya Satria pelan.

“Kau duduk diam saja disitu, jangan melakukan pergerakan besar, biar saya saja yang menjelaskan.”

Mendegar nada suara Pak Dendi yang serius, Satria hanya mengangguk pelan, matanya masih di layar handphonenya, tapi dia sama sekali tidak memerhatikan apa yang sedang ditunjukkan dilayar handphone, perhatiannya 100 persen difokuskan ke suara Pak Dendi.

“Saya merasakan aura sesosok mahluk astral berlevel 2 dan level 3 didaerah dekat kau latihan tadi, saat saya selidiki lebih lanjut, ternyata mereka berdua berada di lokasi yang tidak jauh dari tempat kau berada.” Jelas Pak Dendi.

Mahluk astral itu dibagi menjadi 7 level, mulai dari level 1 yang merupakan mahluk astral paling lemah, biasanya mahluk astral level 1 itu jiwa-jiwa manusia yang baru saja meninggal, sama sekali tidak memiliki kekuatan atau kekuatan mistis, mereka hanya diam menetap di tempat mereka tinggal.

Sedangkan mahluk astral level 7 itu tidak beda jauh dengan sebuah eksistensi yang biasanya dipanggil dewa, mahluk astral level 7 memiliki kekuatan untuk membuat tsunami raksasa, membuat gempa bumi berskala besar yang bisa menegenai satu negara, dan bahkan bisa mengontrol konsep ruang dan waktu, untungnya, tidak ada banyak mahluk astral level 7 di dalam kedua Dunia itu.

Mahluk level 2 dan 3 itu walaupun jauh lebih kuat daripada manusia biasa, masih bisa dikalahkan kalau saja memiliki senjata api besar atau memiliki kekuatan astral yang lumayan kuat, sayangnya, Satria sama sekali tidak membawa perlengkapan bertarungnya, jadi dia hanya bisa mengandalkan kekuatan astralnya yang masih kurang terkendali kalau misalnya dia diserang oleh 2 mahluk astral itu.

“Sepertinya, mereka sedang tidak melakukan hal yang berbahaya, tapi untuk jaga-jaga, kau coba awasi mereka berdua, tapi kalu awasi mereka dari ejauhan saja, jangan coba-coba mendekat, kau masih belum cukup handal untuk menangani mahluk astral level 2 sendirian, apa lagi mahluk astral level 3.”

Mendengar peringatan dari Pak Dendi, Satria hanya mengangguk, pas pada saat itu, makanan Bakso yang dipesannya tadi itu sudah selesai dibuat dan sedang disajikan ke mejanya.

“Maaf telah membuat menunggu mas, ini bakso yang mas pesan tadi.” Ucap pelayan yang membawanya.

“Ah! Ya, makasih ya.”

“Baiklah, saya permisi dulu ya mas, kalau ada perlu, panggil saja salah satu pelayan yang lain.” Kemudian, pelayan itu pergi kembali ke dapur dengan berjalan sangat cepat.

Satria yang sudah lapar berencana untuk langsung melahap kedua bakso yang sudah dipesannya itu, tapi apa yang dia lihat di dalam mangkok bakso itu membuatnya berhenti seketika, tubuhnya secara tanpa sengaja langsung berdiri.

Bakso-bakso yang berada di dalam mangkoknya itu berwarna merah pekat, baksonya juga mengeluarkan banyak asap berwarna jingga kekuningan yang menumpuk di atas mankuk bakso.

Satria secara sontak langsung mendorong mangkuk baksonya jauh-jauh, kemudian dia menyadari keganjilan di tempat makan yang awalnya terlihat biasa saja.

Seluruh sisi tempat makanan itu dipenuhi dengan asap-asap berwarna jingga kekunignan itu, semua mangkok yang para pelanggan lain pegang juga mengeluarkan banyak asap yang mengakibatkan ruangannya dipenuhi dengan warna jingga.

Dengan suara yang pelan, Satria berbicara ke pak Dendi.

“Pak Dendi, sepertinya aku menemukan tempat dimana mahluk astral itu bersembunyi”

Beritahu Satria, yang sudah mulai berdiri dan berjalan mundur secara pelan-pelan ketika dengan tiba-tiba, semua pelanggan yang awalnya sedang makan bakso dengan lahap dan tenang memutar kepala mereka secepat kilat kearah Satria, suara leher mereka yang patah karena berputar terlalu cepat membuat bulu kuduk Satria berdiri.

Mata mereka yang awalnya normal-normal saja sudah berubah menjadi hitam total, cahaya-cahaya kecil berkeluaran dari sela-sela bola mata mereka, membuat para manusia jadi-jadian itu menjadi lebih menyeramkan dari sebelumnya.

“Satria, kau bilang apa barusan tadi? Kau sudah menemukan hantunya?” suara Pak Dendi yang terdengar di dalam pikirannya Satria membuatnya tersenyum bingung, kemudian Satria berbicara.

“Yaaaahhhh… sepertinya sih begitu.” Ucap Satria pelan-pelan, pemandangannya dia fokuskan kea rah kumpulan manusia jadi-jadian yang mulai berdiri dari kursi mereka satu persatu.

“Entah ini berita baik atau buruk.” Manusia jadi-jadian itu mulai berubah bentuk, ada yang menumbuhkan sayap kelelawar dari punggungnya, ada yang memiliki 4 kepala dan 18 mata, ada juga yang menumbuhkan sebuah ekor kalajenking dan mempunyai tusukan seperti lebah.

“Tapi sepertinya aku menemukan kedua-duanya deh.” Ucap Satria, yang sudah mulai membungkukkan tubuhnya untuk menghindari serangan dari belakang.

‘Swoooosh!’ Sebuah kapak berukuran 2 meter lebih yang awalnya ditempel di dinding restoran terbang melewati tempat dimana leher Satria sebelumnya berada, karena Satria berhasil menghindar tepat waktu, kapak itu tidak mengenai apa-apa dan hanya membelar pintu masuk restoran itu menjadi banyak bagian.

“Hei Pak Dendi, apa bapak yakin kalau mahluk astralnya itu Cuma ada 2?” Tanya Satria sambal berguling ke samping kanannya, kapak besar yang awalnya tadi itu nempel di pintu yang hancur langsung terbang melesat ke tempat Satria berdiri.

‘Ooof’

Dengan mengeluarkan suara kesakitan, Satria mengeluarkan sebuah pena dari sakunya, dia salurkan kekuatan mistisnya ke pena itu dan dengan cepat pena itu langsung berubah wujud.

Pena yang awalnya berbentuk seperti pena biasa itu dengan cepat berubah bentuk, sambal mengeluarkan suara mesin saling terbentur, pena itu memanjang dan mulai menjadi tebal, ujung dari pena itu berubah menjadi ujung pedang yang sangat tajam.

Dipegangya pedang barunya itu di tangan kanannya, satria mulai mengambil pose bertarungnya.

‘Kenapa memangnya Satria? Apa kau melihat lebih dari 2 mahluk astral disana?’

Satria tidak sempat menjawab pertanyaan pak Dendi karena dia sedang sibuk menghindari serangan bertubi-tubi dari salah satu manusia jadi-jadian yang memiliki ekor kalajenking itu.

Setelah berhasil menghindari semua serangan dari ekor itu dan dengan gesit memotong ujungnya, manusia jadi-jadian itu mundur sambal menjerit kesakitan.

“Yahhh.. kalau melihat situasi sekarang sih, sepertinya ada lebih dari 10 mahluk astral yang kulawan deh.” Ucap Satria.

‘Sepertinya kau sedang melawan mahluk astral yang memiliki kekuatan special, mungkin kekuatan yang membuatnya bisa mengandakan tubuhnya? Kalau benar jenis itu yang kau lawan, berarti yang harus kau kalahkan itu tubuh aslinya.’

Mendengar penjelasan pak Dendi, Satria menloncat ke atas meja sambal menghindari piring-piring kaca yang bertebrangan, kemudian dia mengeluarkan nafas kesal.

“Sial…. Padahal kita mau ada ritual penting malam ini, habis sudah energi mistisku nanti.”

‘Gedebuk!’

Karena tidak focus, sebuah meja besar yang terbuat dari kayu berhasil menabrak muka Satria, berhasil membuat sebuah luka goresan kecil di dekat mata kirinya Satria.

“Haaahhh.. Melihat jumlah tubuh manusia jadi-jadian yang mahluk itu buat, sepertinya mahluk itu yang berlevel 3, sedangkan hantu telekinesis ini berlevel 2.” Ucap Satria terhadap diri sendiri.

Kapak yang tadi tergeletak di lantai itu langsung terbang menuju Satria, Dengan gerakan yang jauh lebih cepat dari yang sudah Satria tunjukan sebelumnya, dia menangkis Kapak itu kea rah salah satu tubuh mahluk manusia jadi-jadian itu.

‘Kau perlu bantuanku Sat?’

Satria yang sedang menggantung di langit-langit restoran itu melompat kebawah, tubuhnya yang sudah diubahnya sehinggal menjadi sekeras baja itu menghancurkan tubuh manusia jadi-jadian itu dalam sekali serang.

“Tidak perlu, akan aku bereskan dalam 5 menit, sebaiknya kau persiapkan saja ritual itu.” Ucap Satria.

Pedang yang ada ditangannya kemudian dia lempar sekuat tenaga ke kumpulan manusia jadian itu, membuat pedang mistis itu menusuk beberapa dari mereka ke dinding yang ada di ujung ruangan.

Dikeluarkannya sebuah pena baru dari sakunya, kemudian pena itu berubah juga menjadi pedang yang lain.

Mahluk mistis yang menyadari bahwa Satria itu bukan manusia biasa mulai menggunakan kekuatan mistisnya untuk membuat lebih banyak tubuh baru.

Melihat mahluk itu menumbuhan tubuh-tubuh baru dari dinding-dinding dan atap restoran, Satria mulai tersenyum senang.

“Lumayanlah untuk pemanasan.”

Pak Dendi yang sedang mengumpulkan tenaga di luar apartement merasakan kehadiran Satria di radar mistisnya, ketiak dia lihat lebih lanjut, dia merasakan aura 2 buah mahluk astral di dalam kantung celana Satria, dengan menggunakan kekuatannya, Pak Dendi menteleportasikan Satria dan dirinya ke dalam apartement mereka.

Satria yang terlihat seperti telah bermandi dengan darah membuat muka kesal.

“Pak Dendi, lain kali kalau mau melakukan teleportasi bilang-bilang dulu dong, aku selalu merasa pusing setiap melakukan teleportasi.” Ucapnya.

Pak Dendi hanya menganggukan kepalanya, dengan menggunakan kekuatan mistisnya, dia mengambil dua buah bola tembaga yang ada di dalam saku celana Satria.

Kemudian, dia menggunakan kekuatan mistisnya untuk memastikan bahwa mahluk astral yang ada di dalam bola tembaga itu merupak mahluk astral yang dia rasakan sebelumnya, setelah puas memastikan, dia membuat sebuah lubang berwarna hitam dan meletakkan kedua bola tembaga itu masuk ke dalamnya.

“Kok lama sekali Sat? Katanya Cuma butuh 5 menit untuk mengalahkan mereka, tapi sudah 3 jam lebih lho.” Ucap Pak Dendi dengan nada menggoda, Satria hanya mengeluarkan suara mengeluh dan kesal.

“Mereka jauh lebih kuat dari yang kubayangkan.” Ucap Satria kesal.

Melihat raut wajah Satria yang terlihat merajut, Dendi hanya tertawa kecil, kemudian menggunakan kekuatan mistisnya, Dendi memberishkan pakaian Satria yang penuh dengan darah.

“Satria, Kau beristirahat sajalah dulu di belakang, biar saya pastikan dulu kalau lubang masuk yang saya buat ini benar-benar akan membawa kita ke tempat tujuan yang benar, soalnya bisa bahaya kalau salah tujuan.”

“Hmm.. Baiklah.”

Setelah menyuruh Satria untuk beristirahat, Dendi kemudian mengeluarkan sebuah Cinci emas dari dalam lubang mistis yang dibuatya, kemudian cincin itu dicelupkannya ke dalam sebuah wajan air berwarna putih bening yang sudah dia siapkan sambil mengucapkan berbagai macam mantra.

‘Shiing!’

Cahaya terang memenuhi basement itu, cincin yang awalnya berwarna emas ini telah berubah menjadi cincin berwarna hitam.

Dengan pelan-pelan, Dendi meletakan cincin hitam itu di lantai basement, kemudian dia membuat berbagai macam garis di sekitar cincin itu, ditaburkannya juga berbagai macam bubuk di sekitar cincin itu.

Dendi kemudian mulai mengalurkan kekuatan mistisnya ke cincin hitam itu, cincin itu secara perlahan mulai berubah menjadi lubang yang besar, bentuknya seperti lubang yang biasa dibuat oleh orang lain untuk membuat sumur.

Lubang kecil yang ada di lantai basement apartement itu, lubang itu kemudian mulai membesar secara perlahan-lahan, asap-asap ungu juga mulai keluar dari lubang itu.

3 jam pun berlalu, di perumahan-perumahan sekitar, semua warga sudah tidur dengan pulas, selain hantu atau mahluk astral lainnya, manusia satu-satunya yang masih terbangung hanyalah Satria.

“Satria, kau sudah siap?” Tanya Pak Dendi.

“Sudah pak, semua perlengkapan sudah saya bawa, alat-alat, senjata, dan juga makanan darurat, saya juga suda mengisi penuh tenaga mistis saya.” Jawab Satria mantap.

Dendri memperhatikan Satria lebih seksama, memastikan bahwa Satria benar-benar sudah siap, ketika sudah yakin bahwa Satria memang siap, Dendi mengangguk senang.

“Baiklah Dendi, bapak akan peringatkan kembali, berbeda dengan hal-hal sebelumnya, bahkan bapak sendiri tidak tahu apa yang akan terjadi nantinya, jadi kalau bapak bilang untuk diam, kau harus diam, kalau bapak bilang lari, kau harus lari.”

“Kalau tidak, ini bisa saja akhir dari pencarian kita, dan alau saja kita mati, ada kesempatan besar dunia akan menjadi kacau nantinya, paham?”

Satria mengangguk, kemudian, mereka berdua langsung saja melompat masuk ke lubang berwarna hitam itu.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Bagian endingnya kurang memuaskan, tapi saya tidak tahu apa yang kurang.

18 Sep
Balas

Bergabung bersama komunitas Siswa Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali